Penguasa Darurat Militer Minta GAM Menyerah Saja

(zie onder Operasi Pulau Nasi voor inzet van de KRI Todak, KRI Leuser, dan KRI Lemadang. De Todak en Lemadang zijn beide voor een kleine 20 miljoen euro uitgerust met Nederlandse wapentechnologie).

Penguasa Darurat Militer Minta GAM Menyerah Saja

Kompas 23/05/03 (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/23/utama/328113.htm)

Banda Aceh, Kompas - Di tengah enam gempuran sengit dari TNI di enam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (22/5) kemarin, Penguasa Darurat Militer Daerah NAD mengimbau pihak Gerakan Aceh Merdeka segera turun dari persembunyian dan menyerah. Dengan menyerahkan diri, maka keselamatan personel GAM akan dijamin dengan kemungkinan diberi amnesti atau pengampunan.

"Kami masih terus meminta mereka menyerahkan diri dengan sukarela. Kalau mereka tertangkap saat kontak senjata, maka proses hukum tetap akan jalan," ujar Penguasa Darurat Militer Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Mayjen Endang Suwarya, didampingi Gubernur Abdullah Puteh, di Banda Aceh, Kamis sore.

Endang menyebutkan, sampai pukul 16.00 kemarin enam wilayah yang menjadi lokasi kontak senjata dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih terus berlangsung. Hasil lengkap dari pertempuran itu belum diketahui secara pasti, namun yang jelas lima personel GAM tewas.

Pemantauan Kompas, memasuki hari keempat darurat militer di Aceh, situasi jalan raya lengang dan sepi, terutama di enam kabupaten yang menjadi sentra baku tembak TNI dengan GAM.

Angkutan bus umum maupun travel dari Lhok Seumawe ke Banda Aceh atau ke Medan, sudah tak terlihat lagi di jalan-jalan. Banyak bus berhenti di terminal-terminal tanpa melanjutkan perjalanan, seperti di Aceh Utara dan Bireuen. Para penumpang termasuk anak sekolah, terlihat menumpuk di pinggir-pinggir jalan.

Pada sore hari sebagian angkutan antarkota beroperasi dengan kawalan aparat keamanan. Umumnya angkutan ini mengangkut anak sekolah, pegawai, dan penumpang umum yang berbelanja kebutuhan pokok. Namun, tidak sedikit anak-anak sekolah yang berjalan kaki dan bersepeda pergi dan pulang ke sekolahnya.

Lain halnya di Kota Lhok Seumawe dan Banda Aceh, angkutan dalam kota masih terlihat normal beroperasi. Bukan hanya minibus, tapi juga becak bermotor dan ojek terlihat ramai di tengah jalan raya. Namun, menjelang sore jalan kembali terlihat lengang.

Aktivitas pekerja di sejumlah indutri strategis, seperti PT Arun LNG, PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertelizer juga tampak berjalan normal. Aparat TNI dan Brimob berjaga-jaga di depan pintu gerbang keluar-masuk perusahaan tersebut.

Suasana kota menjadi seperti kota "mati" ketika pukul 23.19. Aliran listrik mati di seluruh Kota Lhok Seumawe. Aliran listrik hidup kembali sekitar pukul 23.39. Matinya aliran listrik ini sempat membuat suasana menjadi mencekam.

Aparat di tengah kegelapan tampak berjaga-jaga di berbagai sudut kota untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyerangan GAM secara tiba-tiba.

Kepala PT PLN Aceh Utara Sulaiman mengatakan, matinya aliran listrik akibat dipotongnya menara transmisi yang berjarak 23 kilometer dari Langsa, Aceh Timur, oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Akibatnya, aliran listrik ke Panton Labu, Lhok Sukon, Lhok Seumawe, Aceh Tengah, dan Bireuen terganggu.

"Sementara ini kondisi menara transmisi masih disanggah dengan kayu. Jika kayu penyanggah patah kembali, maka aliran listrik akan kembali mati," ujarnya. Sulaiman mengatakan, terpotongnya menara transmisi dilakukan oleh orang tak dikenal. PLN Pembangkit dan Penyalur Wilayah I Medan kini tengah berusaha memperbaiki kondisinya. "Jika berjalan normal, perbaikan akan dalam lima hari," katanya.

Operasi keamanan

Jumlah korban dari pihak GAM hingga kemarin masih belum jelas. Namun, dari pihak TNI belum satu pun prajurit yang gugur, kecuali 11 yang luka dihajar peluru GAM. Endang mengatakan, serangan TNI Kamis dini hari di Ujung Pancu, Pekan Bada, Aceh Besar, telah menewaskan tiga personel GAM, yakni Bahri (25), Gunawan (27), dan M Syafii (20) serta menyita senjata dan ratusan amunisi.

Di wilayah Bukit Seribu, Aceh Timur, TNI juga menembak mati dua anggota GAM serta menyita puluhan amunisi dan granat. Masih di Aceh Timur, di daerah Matang Nibung, Satgas Mobil TNI menggempur lokasi GAM sampai Kamis malam.

Sementara itu, dalam jumpa pers di Komando Operasi (Koops) TNI, Juru Bicara Koops TNI Letkol Achmad Yani Basuki mengatakan, pada Rabu malam dalam sebuah pengejaran yang dilakukan personel Kodim Aceh Besar menembak mati panglima wilayah GAM Cot Keueng Tengku Din Sahnan (28).

Anggota Yonif 403 yang dipimpin Letda Yanu Wiryatmo dalam sebuah penyergapan dikawasan Nisam menangkap seorang yang diduga anggota GAM. Mawardi diduga keras merupakan operator radio GAM yang beroperasi di daerah Sumirah, Nisam, Aceh Utara.

Operasi Pulau Nasi

Operasi yang tergolong besar Kamis kemarin adalah gempuran untuk kedua kalinya ke Pulau Nasi, sebuah pulau seluas sekitar 42 km persegi yang tidak jauh dari lepas pantai Banda Aceh. Lokasi ini diyakini TNI sebagai basis pendidikan pasukan GAM serta sumber dana berupa ladang ganja. Pihak intelijen memperkirakan 200 personel GAM dengan 50 pucuk senjata di tempat itu.

Gempuran hari kedua ini langsung dipimpin Komandan Korem Teuku Umar Kolonel Geerhan. Penyerbuan dibantu tiga kapal, yakni KRI Todak, KRI Leuser, dan KRI Lemadang, serta dua Kapal TNI Angkatan Laut (AL) Selako dan Simelue dari Tim Intai Amfibi serta Pasukan Katak.

Rabu lalu, 130 anggota TNI berhasil menduduki basis GAM di wilayah Lamting bagian utara pulau. Hari Kamis dini hari pasukan TNI menambah 30 personel di wilayah utara itu. Sedangkan 30 pasukan lainnya didaratkan di bagian selatan pulau tersebut.

Sebelum mendarat di bagian selatan pulau itu, pasukan TNI disambut dengan tembakan senapan AK47 dan M16 dari arah pegunungan. Untuk mengamankan pantai diturunkan Tim Intai Amfibi dan Pasukan Katak. Sedangkan dari KRI diluncurkan meriam dengan peluru 20 mm, 40 mm, serta 57 mm ke arah pegunungan. TNI AL telah mengerahkan 16 KRI untuk melakukan penyekatan pada perairan Aceh, untuk mencegah pelarian anggota GAM keluar Aceh.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh di Jakarta kemarin menyatakan, "Selama ini memang sudah ada Satuan Tugas Rencong Laut di kawasan perairan Aceh. Satgas tersebut berkekuatan 12 KRI. Kemudian menyusul kedatangan Satuan Tugas Amfibi dengan 14 KRI.

Hindari

Wakil Panglima Komando Operasi TNI Brigjen Bambang Dharmono, Kamis, mengunjungi Batalyon I Marinir yang empat hari lalu mendarat di Samalanga. Dalam kunjungan itu ia menegaskan, para prajurit menghindari pertempuran di kawasan permukiman, pasar dan tempat-tempat ibadat.

Sementara itu, Markas Komando Daerah Militer VII/Wirabuana di Makassar, kini siap mengirimkan bantuan pasukan tambahan ke NAD sebanyak satu batalyon jika memang diperlukan. (LAM/LUK/BUR/JOS/ B03/SMN/SAH/NJ)
Geen wapens naar Indonesië Pers